Dialektika Jiwa: Menemukan Rumah di Balik Raga

  • Reading Time: 3 mins
Dialektika Jiwa: Menemukan Rumah di Balik Raga

KH. Roehan Utsman (Pimpinan Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Yogyakarta)

Pernahkah kita bertanya, mengapa Allah Swt. merasa perlu bersumpah atas nama jiwa? “Demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya.” (Qs. Asy-Syams [91]: 7 )

Secara bahasa, sebuah sumpah bukanlah sekadar bumbu kalimat; ia adalah penanda bahwa ada sesuatu yang sangat krusial di balik objek tersebut. Melalui sumpah ini, kita diajak menyadari bahwa diri kita bukanlah sekadar daging dan tulang, melainkan sebuah medan pertempuran yang sunyi namun menentukan.

Dalam perjalanan mengenal diri, kita seringkali keliru membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ternyata, di dalam diri kita terdapat potensi yang bekerja dengan cara yang sangat halus. Setidaknya ada tiga potensi dalam diri manusia, di antaranya:

Pertama, hawa atau labirin pikiran. Ia bekerja dengan sangat lembut, menipu rasa benar kita di balik kesalahan. Hawa seringkali membuat kita merasa sedang membela kebenaran, padahal sebenarnya kita hanya sedang membela apa yang kita sukai. Ia menyerang keyakinan dan logika kita.

Kedua, syahwat atau panggilan raga. Berbeda dengan hawa yang menyerang pikiran, syahwat lebih berkaitan dengan kenikmatan biologis—tubuh yang menuntut pemenuhan melalui duniawi.

Ketiga, nafsu atau diri sejati. Inilah “Rumah” kita. Ia adalah pusat kendali yang diberikan kebebasan untuk memilih. Jika jiwa ini tenang (muthmainnah), maka hawa dan syahwat akan ikut tunduk. Namun, jika liar, maka kita akan terus terjebak dalam penyesalan (lawwâmah) atau keburukan (ammârah bi as-sû).

Seringnya manusia terjebak dalam ironi sunyi. Dalam arti, ia cenderung merawat cangkang dan melupakan isi. Dalam hal ini, sebuah ironi yang tak jarang kita rasakan dalam keseharian modern ini. Kita mencurahkan begitu banyak waktu, tenaga, dan biaya untuk memoles jasmani. Kita merawat raga seolah-olah ia akan menetap selamanya, seolah penampilan merupakan satu-satunya bahasa agar kita diterima oleh dunia.

Namun, di sudut lain, jiwa kita dibiarkan lapar dan letih. Kita sering lupa bahwa tubuh hanyalah alat persinggahan, sementara jiwa adalah rumah sejati yang akan kita bawa melampaui batas waktu dan tempat.

Secara psikologis, keinginan untuk terus merawat yang “terlihat” muncul dari dahaga akan pengakuan. Namun, semakin kita mengejar pengakuan luar, semakin menganga kekosongan di dalamnya. Kegelisahan dan kehampaan yang sulit dijelaskan logika itu sebenarnya adalah teriakan jiwa yang minta diperhatikan.

Di sinilah sepatutnya kita mencari keseimbangan dalam kesederhanaan. Dalam menghadapi pertarungan ini, kita harus belajar bahwa kunci utamanya adalah keadilan. Adil berarti menempatkan sesuatu pada porsinya. Bagi kita yang memiliki kelebihan, inilah saatnya melatih kedermawanan—berbagi tanpa merasa angkuh. Bagi kita yang sedang dalam kekurangan, inilah saatnya mengasah ketegaran—tetap tegak dalam kesabaran tanpa rasa dengki.

Keabadian sesungguhnya tidak terletak pada apa yang kita kumpulkan, melainkan pada apa yang kita kenal dengan al-bâqiyât as-shâlihât atau amal-amal saleh yang tetap abadi. Harta dan cinta pada manusia bisa menjadi bencana jika kita lupa akan sifat ketidakabadiannya.

Oleh karena itu, sebentar lagi kita akan memasuki momen refleksi besar, yakni bulan Ramadhan. Inilah waktu di mana kita dilatih untuk tidak sekadar memindahkan jam makan, tapi benar-benar memindahkan fokus perhatian.

Tak ada salahnya kita merenung sejenak: Berapakah porsi perhatian kita untuk jiwa dibandingkan dengan raga selama ini? Maka, Ramadhan nanti merupakan kesempatan untuk tidak terjebak pada urusan perut semata. Jangan sampai ketenangan jiwa yang sudah kita bangun dengan susah payah sepanjang hari,  luruh seketika oleh kerakusan perut saat berbuka yang sebenarnya hanya butuh satu piring dan satu gelas.

Kemuliaan itu justru sering terselip pada amalan-amalan sunnah yang kita lakukan dengan tulus, di saat tak ada mata manusia yang melihat. Dan Ramadlan menjanjikan keberuntungan, tapi juga mengingatkan kebuntungan (Qs. As-Syams [91]: 9-10).

Beruntung karena prosesnya adalah upaya pencucian jiwa bagi yang serius menjalani dengan penuh kekhusyukan dan ketakwaan, dan buntung karena menyia-nyiakannya dengan tetap bergumul dalam kemaksiatan. Wallâhu a’lam