Saat Cinta Menemukan Cahaya Ilmu

KH. Roehan Utsman (Penasehat IKPM Cabang Yogyakarta)
Suatu hari Nabi Musa as., nabi yang terkenal dengan ketegasannya dalam menegakkan kebenaran itu sedang berjalan menempuh perjalanan panjang. Di sebuah hamparan padang rumput yang luas, ia bertemu dengan seorang penggembala kambing yang sedang istirahat di sebuah pohon yang cukup rindang karena ingin menunaikan ibadah.
Nabi Musa kemudian menyempatkan untuk beristirahat di tempat tersebut untuk berteduh dan menghilangkan penatnya.
Setelah selesai ibadah, penggembala itu melantunkan doa:
“Ya Allah dimanakah Engkau? Andai aku bisa jadi pelayan-Mu, aku ingin menjahitkan pakaian-Mu, menyisir rambut-Mu yang kusut, dan mencuci pakaian-Mu yang kotor.
Jika Engkau sakit, aku akan merawat-Mu, jika Engkau lelah aku akan memijati kaki-Mu, dan setiap pagi akan kubawakan susu segar untuk-Mu.”
Mendengar itu Nabi Musa terkejut. Hatinya bergetar, bukan karena haru, melainkan takut karena kehormatan Allah swt yang Maha Suci. Maka dengan ketegasan seorang Rasul, ia menegur penggembala tersebut:
“Wahai Penggembala dgn siapa engkau berbicara? Allah tidak membutuhkan pakaian, tidak memiliki rambut untuk disisir, dan tidak memerlukan makanan dan minuman, ucapanmu tidak pantas dan menyesatkan, berhentilah berkata seperti itu.”
Sang Penggembala kaget, perkataan Nabi Musa menghantam hatinya. Tubuhnya gemetar, dadanya sesak, air matanya mengalir tanpa bisa di tahan. Ia merasa cintanya berubah menjadi dosa, dan doanya telah menjadi penghinaan. Kemudian, dengan langkah gontai dan hati yang hancur ia pergi menjauh sebab merasa diri tak pantas lagi menyebut nama Allah swt.
Tak lama setelah itu, Nabi Musa as. menerima wahyu :
“Wahai Musa, kenapa engkau memisahkan hamba-Ku dari-Ku ? Aku mengutusmu agar makhluk mendekatkan dirinya kepada-Ku, Khaliknya, bukan untuk menjauhkan mereka. Aku tidak menilai doa dari bentuk katanya, tapi dari cinta dan ketulusan hatinya. Apa yang kau anggap keliru disisi-Ku adalah ungkapan cinta yang murni.”
Mendengar wahyu itu, Nabi Musa tersentak. Hatinya luluh, ia menyadari ketegasannya telah melukai jiwa yang sedang mencintai Tuhannya dengan cara yang ia mampu. Tanpa menunda waktu lagi, Nabi Musa segera menyusuri padang rumput untuk mencari sang gembala.
Setelah menemukannya, Nabi Musa berkata dengan suara lembut penuh penyesalan,
“Wahai saudaraku, bergembiralah karena Allah telah menegurku karena dirimu. Berdoalah kepada-Nya dengan caramu, Allah akan menerima ketulusan hatimu. Bahkan lebih dari aturan bahasa yg kupaksakan kepadamu.”
Penggembala tadi menatap Nabi Musa dengan mata berkaca-kaca. Ia tersenyum, lalu berkata dengan penuh adab:
“Aku berterima kasih atas teguranmu kepadaku sebelumnya, wahai Nabi Allah. Teguran itu telah membangunkanku, namun kini ajarilah aku cara berdoa yang sesungguhnya, yang sesuai dengan tuntunan Tuhanmu, agar cintaku berjalan dalam ilmu.”
Kemudian Nabi Musa as. mengajarkannya, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kasih sayang.
Sejak hari itu, Sang Penggembala berdoa dengan lisan yang lebih terarah, namun cintanya kepada Allah tetap sama, bahkan lebih dalam.
Cerita ini mengajarkan bahwa Allah swt. tidak terikat oleh keindahan bahasa, tetapi oleh kejujuran hati. Setiap doa yang lahir dari hati yang jujur selalu indah di hadapan Allah. Semua cinta yg ada di dalam hati tidak akan pernah salah arah.
Ketulusan adalah ruh dari ibadah, tetapi ilmu menjelma cahaya yang meneranginya. Ilmu tanpa kasih hanya akan melukai, sementara kasih tanpa ilmu butuh bimbingan untuk sampai ke tempat tertinggi.
Pada Ramadhan tahun ini, cerita sederhana ini bisa menjadi motivasi kita untuk belajar mencintai Sang Khaliq. Bulan Ramadhan bukan sekadar perubahan jam makan, melainkan sebuah bulan pendidikan. Namun, pendidikan sejati yang ditawarkan Ramadhan bukanlah tentang pendidikan lahir, melainkan transformasi jiwa.
Pendidikan jiwa agar jiwa terpenuhi dengan ketulusan dan cinta. Dan Ramadhan adalah waktu untuk memperbaiki “bahasa” kita kepada Allah. Bukan sekadar bacaan yang lancar, tapi jiwa yang benar-benar hadir dan cinta yang memiliki landasan ilmu. Wallahu a’lam





