Catatan Silaturahmi Jogja: Meneguhkan Jiwa Besar di Abad Kedua Gontor.

  • - Reading Time: 4 mins
  • - 11 x dibaca
KH. Hasan Abdullah Sahal bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Ibnu Sina, Dakawon, Sleman, Yogyakarta

Jogja, Senin 5 Oktober 2026 — Udara pagi Yogyakarta terasa begitu sejuk saat Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Cabang Yogyakarta mendapat kehormatan besar. Dua Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, KH. Hasan Abdullah Sahal dan KH. Akrim Mariyat, berkenan hadir menapakkan kaki di Kota Pelajar.

Kehadiran beliau berdua membawa misi mulia: merajut silaturahmi ke PP Baitussalam Prambanan dan PP Ibnu Sina Godean, sekaligus meresmikan masjid baru di PP Baitussalam IV yang terletak di Patuk, Gunungkidul—melengkapi jejaring Baitussalam yang sebelumnya telah berdiri di Prambanan (Pusat), Cangkringan (Sleman), dan Blitar.

Di sela-sela agenda tersebut, KH. Hasan Abdullah Sahal memberikan untaian tausiyah mendalam yang kaya akan refleksi perjuangan, ketulusan, dan arah baru pendidikan pesantren.

1.Berdiri karena Kemauan, Bergerak karena Keterpanggilan.

Dalam amanatnya, Pak Kyai Hasan menegaskan filosofi mendasar berdirinya sebuah lembaga pendidikan.

“Pondok itu berdiri karena kemauan, dan kemauan itu ada karena keterpanggilan. Keterpanggilan dari hati nurani adalah yang terkuat, karena ia lahir dari hidayah Allah SWT.”

Bagi beliau, pondok yang dibangun atas dasar hidayah dan keterpanggilan nurani tidak akan goyah oleh pasang surutnya keadaan.
“Ada santri atau tidak ada santri, pondok harus tetap berdiri dan berjalan,” tegas beliau“.

Hal ini dibuktikan dari kisah nyata alumninya. Pak Kyai bercerita tentang KH. Hakim Abdul Karim dan ayahnya, KH. Abdul Karim. Keduanya adalah alumni Gontor yang sukses membangun pesantren.

Pelajarannya jelas: siapa saja bisa punya pesantren. Menjadi pengasuh pesantren bukan soal nasab (keturunan), bukan sekadar faktor kepintaran, jabatan, atau kekayaan. Kuncinya hanya satu: kemauan dan keterpanggilan jiwa.

2.Penting vs Kepentingan: Penyakit Zaman “Mencla-Mencle”.

Menyoroti dinamika zaman modern, Pak Kyai memberikan kritik sosial yang tajam namun penuh humor sekaligus refleksi. Beliau menyebut zaman sekarang sangat dinamis, namun sayangnya sering kali menjadi “mencla-mencle” (tidak konsisten). Mengapa? Karena manusia modern kerap gagal membedakan mana hal yang penting dan mana yang sekadar kepentingan.

Mengambil momentum peresmian masjid pagi itu, beliau memberikan tamsil:
“Orang mendirikan shalat dan membangun masjid karena tahu kedua hal itu penting, bukan karena ada kepentingan di baliknya. Jika dasarnya adalah kepentingan pribadi atau golongan, maka shalat tidak akan dikerjakan, jemaah tidak akan makmur, dan masjid tidak akan pernah berdiri.”

Beliau berpesan agar para pejuang pendidikan mengabaikan kepentingan sesaat demi memperjuangkan hal-hal yang mutlak penting bagi umat.

3.Totalitas “Kyai Santri” dan Paket Utuh Pesantren.

Sebuah pernyataan tegas keluar dari lisan beliau,
“Saya ini kyai santri. Bukan kyai golongan, bukan kyai organisasi, ataupun kyai jamaah.”

Pak Kyai Hasan mengingatkan bahwa kemunduran banyak pesantren hari ini terjadi karena sang kyai menyandang double status (tidak fokus karena terjebak urusan golongan atau politik).

Padahal, pesantren yang sehat harus memiliki 4 pilar utuh yang menyatu:
-Kyai,
-Santri,
-Pelajaran (semangat menuntut ilmu),
-dan Lingkungan (disiplin kehidupan).

Keempat hal ini adalah satu paket yang tidak boleh dipisahkan.

Kehidupan Kyai dan santri harus menyatu dalam rasa dan disiplin:

  • Apa yang dirasakan dan dimakan santri, itu pula yang dirasakan dan dimakan Kyai.
  • Santri bangun pagi, Kyai harus bangun lebih pagi. Santri tidur malam, Kyai tidur lebih sedikit.
  • Apa ilmu dan pengetahuan yang dikuasai Kyai, harus ditularkan agar dikuasai pula oleh santrinya.

Beliau juga membesarkan hati para santri dengan mengingatkan bahwa atmosfer pesantren memang dirancang penuh dengan ujian.

“Jangan takut diuji. Suasana ujian akan membuat penghuninya tambah pintar, cerdas, dan tangguh,” ujar beliau.

4.Sempurnanya “Panca Motto” Gontor: Mahkota Berjiwa Besar.

Menapaki abad kedua perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor, Pak Kyai Hasan membawa kabar penting mengenai penyempurnaan manhaj pendidikan Gontor.

Motto Pondok yang selama ini dikenal melahirkan ribuan tokoh, kini disempurnakan dengan menambahkan poin kelima, sehingga menjadi Motto Gontor:

  1. Berbudi Tinggi
  2. Berbadan Sehat
  3. Berpengetahuan Luas
  4. Berpikiran Bebas
  5. Berjiwa Besar

Apa makna terdalam dari “Berjiwa Besar“?

Secara mendasar, berjiwa besar adalah kemampuan seseorang untuk melampaui ego dirinya sendiri demi kemaslahatan nilai, umat, dan peradaban yang lebih luas.

Penjabaran urgensi moto baru ini bisa dipahami dalam beberapa poin krusial:

Penyempurna Berbudi Tinggi:
Jika berbudi tinggi melahirkan sopan santun dalam pergaulan harian, maka berjiwa besar melahirkan toleransi dan ketangguhan. Akhlak baik saja belum cukup jika tidak dibarengi dengan dada yang lapang dalam menghadapi perbedaan dan kritik.

Penaklukan Terhadap Ego Pribadi:
Santri dididik untuk menahan amarah, memaafkan, serta menyingkirkan ambisi jabatan atau haus pujian. Kemenangan sejati adalah saat kita berhasil menaklukkan ego sendiri.

Fokus pada Keberlangsungan Perjuangan:
Pejuang yang berjiwa besar tidak sibuk mempertahankan nama atau kehormatan pribadinya. Ia sadar dirinya kecil di hadapan cita-cita umat, sehingga ia ikhlas berkorban walau namanya tak dikenal dunia.

Kesiapan Menghadapi Abad Kedua:
Masa depan menuntut alumni yang luas dadanya, kokoh jiwanya, dan mampu menjadi perekat di tengah benturan berbagai kepentingan global.

Sebagai penutup, beliau mengibaratkan:
“Jika Berbudi Tinggi adalah akarnya, maka Berjiwa Besar adalah buahnya.”

Pimpinan Gontor menaruh harapan yang sangat besar agar kelima motto dasar pendidikan ini benar-benar ditegakkan dan dihidupkan di mana pun para alumni dan santri berada.

Sebuah wejangan pagi di Jogja yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menjadi kompas arah perjuangan bagi dunia pesantren di Indonesia.

Oleh: Drs. Raehan Utsman

Penasihat PC IKPM Jogjakarta, Pengasuh Pondok Pesatren Ibnu Qoyyim, Piyungan, Bantul, DI Yogyakarta