Mind-Blowing! Ustadz Sofwan Rahman Ajak Santri Ibnu Sina Bedah Masa Depan dengan Strategic Thinking

  • - Reading Time: 4 mins
  • - 153 x dibaca
Foto bersama Ust. Sofwan Rahman, duduk paling tengah, bersama para peserta meet and greet.

SLEMAN — Sabtu siang (14/2/2026) menjadi momen transformatif bagi para santri Pesantren Tahfizh Ibnu Sina Yogyakarta. Di sela rutinitas libur mingguan, mereka berkesempatan membedah masa depan bersama Ustadz Sofwan Rahman, seorang strategic consultant lintas lembaga dan perusahaan multinasional.

Kehadiran alumni Gontor 1992 ini disambut hangat oleh pimpinan pesantren, para guru, santri, hingga rekan sejawat sesama alumni Gontor dalam forum Meet and Greet.

Seperti biasa, acara diawali dengan sambutan dari Ustadz Khairul Imam, selaku pimpinan Pesantren Ibnu Sina Yogyakarta. Ia mengatakan bahwa kehadiran Ustadz Sofwan Rahman kali ini menjadi magnet kehadiran para alumni Gontor di pesantren ini. Selain alumni senior, ia juga lulusan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Artinya, ia pernah mengenyam pendidikan di Kota Pelajar ini, dan sebagai kota keduanya. 

Meet and Greet: Ust Sofwan Rahman bersama para santri Pesantren Ibnu Sina (PIS) Yogyakarta.
Meet and Greet: Ust Sofwan Rahman bersama para santri Pesantren Ibnu Sina (PIS) Yogyakarta.

Pimpinan Pesantren Ibnu Sina, Ustadz Khairul Imam, dalam sambutannya menekankan bahwa pesantren ini berusaha menjadi wadah pengembangan potensi yang komplet.

“Tadi sudah saya sampaikan sekilas tentang pesantren ini dan bagaimana anak-anak membangun semangat dalam berbagai bidang. Di sini selain menghafal al-Quran secara serius, santri-santri juga dibekali keterampilan dan keahlian, di antaranya ada kelas coding, desain grafis, membaca dan menulis kreatif, dan lain sebagainya. Terutama pembentukan karakter melalui pendisiplinan aktivitas keseharian,” jelas UstadzKhairul.

Sesi utama dibuka dengan pengenalan kiprah Ustadz Sofwan Rahman oleh Ustadz Reza al-Farabi yang memaparkan urgensi peran strategic planner. Hal ini memberikan wacana baru bagi para santri bahwa pengelolaan lembaga besar memerlukan master plan dan perencanaan visi yang presisi. Setidaknya, mereka memiliki gambaran bahwa sebuah lembaga, perbankan, perseroan, dan perusahaan memerlukan master plan dan perencanaan dalam menjalankan visi dan misinya. Lanjut sesi inti, dialog bersama Ust Sofwan Rahman dengan tema besar “Islamic Strategic Thinking and Foresight” yang dipandu oleh Ustadz Syaifullah Fakih.

Menarik sekali, Ustadz Sofwan Rahman menghentak kesadaran para santri dan audiens dengan sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam: Ada pertanyaan? Kok ketawa? Justru ini yang paling penting dalam kita menjadi warga dunia. Menjadi anak muda yang punya cita-cita. Itu adalah dengan mempertanyakan sesuatu. Karena dunia tidak akan berubah, tidak akan lebih baik, dan tidak akan berevolusi menuju kemajuan kalau tidak ada orang-orang yang bertanya, tegasnya.

Momen tersebut menjadi pengalaman mind-blowing bagi para santri yang selama ini mungkin jarang mempertanyakan hal-hal fundamental dalam keseharian mereka. Dialog pun berkembang ketika Ustadz Sofwan mulai “bergerilya” melempar pertanyaan kepada satu per satu santri mengenai alasan mereka menghafal al-Quran.

Ketika seorang santri bernama Ramdan menjawab, Untuk membahagiakan orang tua, Ustadz Sofwan memberikan refleksi penting: Intinya adalah jangan pernah bertanya sampai benar-benar pertanyaan itu mengajak pada tujuan hidup kamu dan jalan hidup kamu.

Kehadiran Ustadz Sofwan Rahman di tengah santri-santri Ibnu Sina menjadi inspirasi penting, terutama bagaimana ia mengaduk dan menata ulang pikiran dan kesadaran para santri. Ia tidak sekadar menyuruh para santri untuk bermimpi setinggi langit, tapi ia membedah mimpi tersebut. Memecah tujuan besar (macro goal) menjadi langkah-langkah kecil yang bisa dieksekusi (micro actions). Mengajak masuk ke area logika dan struktur (logic and structure).

Hal yang tak kalah menarik, pada momen ini para santri mulai menikmati dialog karena ia tidak sedang mengajarkan bagaimana hidup yang ideal, tapi membongkar visi dan misi hidupnya. Tentu diselingi dengan jargon Trimurti Pondok Modern Gontor yang relevan, semisal “Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja.” Di sini mereka diperkenalkan dengan pola pemetaan posisi subjek saat ini yaitu para santri dan posisi yang diinginkan yang dicita-citakan. Mengidentifikasi hambatan, kekurangan sumber daya, dan peluang yang bisa dimanfaatkan untuk menjembatani jarak tersebut.

Seakan waktu berjalan lambat. Di akhir sesi, Ustadz Sofwan mengajak para santri untuk menentukan prioritas utama agar energi santri terfokus pada hal yang memberikan dampak terbesar. Artinya, dalam mengarungi kehidupan dan menghadapi tantangan zaman dan perubahan, seorang santri harus siap membuat keberhasilan menjadi sesuatu yang terukur, atau dikenal dengan istilah KPI (Key Performance Indicator). Menentukan tolok ukur keberhasilan yang konkret, sehingga santri tahu persis apakah mereka sudah berada di jalur yang benar atau melenceng.