DI BALIK SENYAP

Cerpen Fawwaz HN*
Malam itu, diselimuti sepoi angin nan lembut. Gemerlap bintang gemintang bagaikan tontonan sebuah pertunjukan, yang tak layak dilihat dalam kegalauan. Angin bernafas perlahan. Pelan sekali, seakan menyembunyikan kesejukannya dalam kegelapan.
Raka berbaring di atas bukit yang menjulang tinggi, memandang ke langit. Dari sana tampak gemerlap kota dari jarak nun jauh. Akan tetapi, bukan itu yang ia tuju sejak enam jam lalu. Ia berbaring di atas tanah basah. Berkamuflase lumpur serta dedaunan yang menutupi tubuhnya. Ia telah berbaring selama enam jam lamanya sembari memeluk senapan kebanggaannya.
Mata elang Raka tertuju pada sebuah bangunan dua tingkat, tepatnya pada jendela. Ia memperhatikan seseorang yang sedang asyik duduk di kursinya, sembari tenggelam dalam tulisannya yang berserakan di atas meja kerjanya—target malam ini. Di lain tempat, dua orang bertubuh besar sedang merangkul senjatanya. Masing-masing berdiri di ambang pintu. Ia tak tahu apa yang akan mendatanginya malam ini.
Ia pun mulai mengatur jaraknya. Detak jantungnya. Dan sebisa mungkin menahan getaran tubuhnya agar bidikannya tidak meleset. Dan, tiba-tiba yang ditunggu pun merasa iba. Gelisah, seolah tahu sebentar lagi malaikat maut hendak datang menyergap. Tiga. Dua. Satu. Darr!
Tembakan meledak, peluru melesat cepat di bawah cahaya rembulan. Peluru panas itu terus melaju. Pesat, cepat, tepat. Menghantam jendela. Pecah. Kaca berhamburan ke mana-mana, dan tubuh pria tua itu seketika jatuh ke samping bagai boneka. Para penjaga berlarian memasuki gedung demi mendengar pecahan kaca. Panik. Tetapi arah tembakan itu terlalu jauh dan tersembunyi. Raka bangkit dari tanah, lalu mundur perlahan bagaikan hantu yang telah menyelesaikan tugasnya. Merapikan perangkatnya. Dan bergegas.
Ia tak merasa bangga, alih-alih merasa bersalah. “Aku bukan pembunuh,’’ gumamnya lirih pada angin subuh. “Aku hanyalah alat. Seperti peluru, yang tak memilih siapa yang akan dibunuh.” Padahal ia baru saja menyudahi hidup seorang manusia. Menyekat nafasnya. Merampungkan beban tubuhnya. Memutusnya dari mata rantai kehidupan dunia.
Selepas menyelesaikan tugasnya, ia menuruni lereng bukit dengan santai, sembari merangkul laras panjangnya. Sampai-sampai binatang buas tak mampu mendekatinya. Sesampainya ia di sebuah bangunan dua tingkat, Raka mendekati sebuah pintu, dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Pintu secara otomatis terbuka perlahan.
Raka melanjutkan langkahnya menuju ruangan. Di sana para kolega telah berkumpul menyambut kedatangannya. Lantas, salah satu dari mereka bangkit dari duduknya.
Pria itu tersenyum sembari memberikan pujian pada Raka. “Gracious!” “You are clever! Kau mampu mengeksekusinya dalam jarak 3.400 km/per jam dalam satu sentuhan.” Lanjut pria itu. “Itu mudah bagiku, Van.” Jawab Raka datar tanpa ekspresi.
Pria yang memberikan apresiasi kepada Raka adalah Van Dubois, pemimpin organisasi. Setelah Van berbincang-bincang dengan Raka, ia meraih selembar kertas yang tergeletak di atas meja, dan memberikannya pada Raka. Di kertas itu terpampang wajah seseorang, target selanjutnya.
Seketika Raka membelalakkan matanya ketika melihat nama yang tertulis persis di bawah gambar tersebut, William Kardover. Namun ia tetap tenang. Kali ini, Raka dihadapkan pada dilema antara kesetiaan pada organisasi, atau loyalitasnya pada keluarga yang telah membesarkannya.
Raka menghela nafas panjang. Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit, seakan dinding-dindingnya ikut menekan pikirannya. Van menatapnya lekat, bukan dengan curiga, melainkan dengan keyakinan penuh. Keyakinan yang selama ini selalu membuatnya patuh tanpa banyak tanya.
“Aku butuh waktu.” ucap Raka. Suaranya tenang, tapi dadanya bergolak, bergejolak. Sebentar kemudian ia keluar, jantungnya berdegup kencang.
Van mengangguk pelan sambil berujar, “Waktu adalah barang yang sangat berharga bagi orang yang mampu mengelolanya dengan baik, Raka. Dan untukmu, aku beri satu malam.”
Malam itu, Raka meninggalkan markas setelah diberikan dispensasi oleh Van. Ia melangkahkan kakinya kembali ke kediamannya, sembari membawa beban di kepalanya. Nama itu. Gambar wajahnya, terus terngiang-ngiang di kepalanya, William Kardover.
Sebuah nama yang dulu sering membuat senda gurau bersama. Melintasi kebahagiaan masa lalu. Hingga suatu permasalahan datang di balik atap rumah keluarga mereka. Dan itu yang membuat Raka dan William terpisah.
Raka termenung di atap rumahnya, dan teringat kalimatnya tadi di atas bukit. Ia hanyalah alat. Namun malam ini kalimat itu keluar dari dalam jiwanya, kenapa begitu sulit melakukan itu semua? Padahal Raka telah bersahabat dengan laras panjangnya. Jika ia benar hanyalah alat, mengapa jantung terasa berat? Tetiba masuk notifikasi di ponselnya, dari Van, “Jangan lupa besok!”
Raka berusaha memejamkan matanya. Tapi tak kunjung mengantuk. Sejenak ia berpikir dengan jernih, dan akhirnya memutuskan untuk menemui William terlebih dahulu. Bangun dari pembaringannya sambil bergumam, “Aku harus menemuinya malam ini!” Seketika itu ia pergi. Membelah gelap malam dengan berjalan kaki. Menembus kabut dan dingin malam yang menyisakan gulana.
Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sesampainya Raka di kediaman Will yang megah nan mewah itu, ia disambut seseorang berpostur besar, dan langsung menanyakan tentang William. Ketika itu, sosok bertubuh besar itu tengah berkomunikasi dengan seseorang dari ponselnya, entah siapa.
Beberapa menit kemudian orang itu mempersilahkan Raka masuk ke dalam. Kemudian diantarkan ke sebuah ruangan tempat William berada. Pintu terbuka otomatis. Dan di sana tampak seseorang berpakaian rapi muncul dari tempat yang gelap. Dari pakaiannya terlihat mahal, jam tangan dan berbagai aksesori lainnya tampak elegan dan fungsional. Tubuh tegap terawat, postur tinggi nan gagah, menandakan gaya hidup yang teratur.
Sosok itu tidak langsung menghampiri Raka. Justru duduk di sudut ruangan membiarkan lampu tetap remang-remang. “Halo banggg!” Raka berjalan cepat ke arah kakaknya dengan sapaan renyah. Namun yang diteriaki justru memilih untuk diam dan tetap tak bergeming. Tak tenang William dengan kebisingan Raka, ia bangkit dari kursinya. Hanya orang tersayang yang mampu meluluhkan Raka.
“Ranss Kardover, ada perlu apa lu kemari, ada yang harus gue bantu?” William berkata sembari membelakangi Raka, seakan-akan sedang berbicara pada dinding. Ya, Raka adalah nama samarannya, yang mengetahui nama aslinya hanyalah William serta kedua orang tuanya.
“Aku rindu bang, sudah lama kita tak berjumpa.” Raka melangkahkan kakinya ke arah kakaknya seraya memeluknya.
“Lepass! Ngapain lu peluk-peluk gua segala,” Jawab William sembari menghindari Ranss. Ranss menatap heran sang kakak, kenapa ia tak ingin dipeluk oleh adiknya sendiri. Padahal mereka kakak beradik yang sangat akur dan saling mendukung satu sama lainnya. Tapi itu semua hilang. Sirna. Di mata Ranss, tak ada harapan lagi pada kakaknya.
“Gua nerima lu ke sini. Gua kira ada hal yang penting. Kalau gak ada hal penting gua usir lu.” Lanjut sang kakak.
“Gua kemari mau ketemu Abang. Aku kangen denganmu. Kita udah lama tak berjumpa, Bang.” Jawab Ranss dengan senyuman yang terlukis di wajah gagahnya.
“Itu gak penting, lu ngabis-ngabisin waktu gua aja.” William tak mau kalah. Lalu memanggil seseorang, dan menyuruh Ranss keluar dari rumahnya. Tubuh Ranss terasa kaku saat dua pria berseragam hitam mendekatinya. Ranss mengepalkan tangannya dengan keras, bukan karena takut, melainkan karena bangunan yang telah dibangun lama di dadanya perlahan runtuh. Ia tak melawan orang bertubuh besar itu. Ia membiarkan dirinya digiring keluar dari rumah itu. Pintu itu terbuka secara otomatis. Angin malam menyapa pelan ke wajah Ranss.
“Bang…” lirih Ranss, nyaris tak bersuara.
Ia melangkah jauh. Bayangan hitam mengikutinya di lantai marmer halaman. Senyuman yang tadi muncul di wajahnya kini lenyap. “Sudah tak ada harapan lagi…” Kalimat itu berulang-ulang di kepalanya seperti tembakan yang tak mengenai sasarannya. Tiba-tiba terdengar dentingan notifikasi, dari Van, “Jangan lupa tugasmu, besok,!”
Beberapa saat Ranss menatap layar ponselnya. Jarinya bergetar, dan cepat-cepat ia mematikan benda itu. Ia mendongakkan kepala ke langit meminta petunjuk pada Sang Kuasa, sembari memandang bintang-bintang yang akan menjadi saksi bisu pembunuhan dan pengkhianatan ini.
“Kalau aku benar hanya alat…” gumamnya.
“Kenapa target ini masih menggantung di pikiranku?”
Dan akhirnya, langit pun berubah. Hitam pekat, menandai duka yang akan terjadi. Ranss kembali ke bukit yang sama, posisi yang sama. Lumpur kembali melumuri tubuhnya. Laras panjang kembali dipeluknya, seolah itu adalah kekasih seumur hidupnya di dunia, mungkin sampai akhirat. Satu-satunya benda yang masih setia.
Dengan mata berkaca-kaca. Dendam kesumat mengendap dalam dada. Ranss mulai merangkai amunisi. Meletakkan dan memposisikan secara presisi. Bangunan itu terlihat jelas di bidikannya. Jendela itu. Meja kerja itu. Dan sang kakak, William Kardover.
Tangannya mantap, nafasnya teratur, meski terasa berat. Benda yang selama ini menyelamatkan nyawanya kini justru mengancam satu-satunya darah keluarga yang tersisa. Satu-satunya orang tersayang yang masih hidup. Ia melakukan itu karena terpaksa; sebuah pertarungan batin antara loyalitas dan kasih sayang. Demi menyelesaikan tugas.
Di kejauhan, terlihat William berdiri dari kursinya. Berjalan menuju jendela. Menatap indahnya pagi yang masih gelap disertai kicau burung warna-warni. Tiga. Dua. Satu. Detik perdetik melumat malam yang terasa begitu panjang.
Masih saja terpaku. Jari-jemarinya berhenti di pelatuk tanpa tanya. Tanpa empati. Hatinya dipenuhi gulana. Pikirannya melayang pada ingatan silam. Kebersamaan, kebahagiaan. Persahabatan adik-kakak yang sangat dekat. Air mata pertama jatuh di pipi, mengingatkan kemesraan saling cubit dan suasana menggemaskan. Tepat di atas tangan jatuh air mata kedua. tangan yang dulu saling berpelukan, berbagi kasih sayang.
Diusapnya perlahan. Disekanya sisa air mata di pipinya. Dan ia kini tak peduli dengan melankolia masa lalu. Jarinya menyentuh pelatuknya. Mantab. sekejap berhenti. Bersiap lagi. Untuk pertama kalinya dalam pekerjaannya, Ranss tak menyentuh targetnya dengan logam panas langsung. Sementara itu, William tampak dari kejauhan masih berdiri di ambang jendela, sambil menatap langit pagi tanpa tahu bahwa maut sedang terbang menuju ke arahnya.
Ranss tersenyum. Sinis. Menarik pelatuknya sambil memejamkan mata. Lantas, ujung laras panjangnya mengeluarkan asap tipis. Mengemasi amunisi secara rapi. Mengantongi kembali selongsong kosong yang masih panas, sambil terus bergumam, “Aku bukan alat,” bisiknya kali ini. “Aku masih manusia, yang bebas mengatur kehidupanku.” Mengulang gumamnya.
Namun pada saat yang sama, ia tahu satu hal pasti, bahwasanya organisasinya tak akan tinggal diam jika gagal. Organisasinya tak pernah memaafkan anggota yang menolak untuk bekerja. Kau mati, atau ia yang mati. Dan, pagi itu, Ranss Kardover bukan lagi pemburu. Ia adalah buruan. []
*Cerpen ini adalah salah satu judul dalam Gerbong 9: Antologi Cerpen Santri Pesantren Ibnu Sina (PIS) Yogyakarta, Lintangbooks 2026





