Cahaya Kenabian di Rumah Digital (Bagian 1): Membangun Fondasi Kedekatan dengan Anak

  • - Reading Time: 5 mins
  • - 6 x dibaca
Cahaya Kenabian di Rumah Digital (Bagian 1): Membangun Fondasi Kedekatan dengan Anak

Kehadiran manusia di jagat raya tidaklah dirancang untuk kesendirian. Dalam mahakarya penciptaan-Nya, Allah swt. telah menetapkan harmoni melalui ketetapan hidup berpasang-pasangan. Sebagaimana Adam as. yang disempurnakan dengan kehadiran Hawa, setiap makhluk diciptakan dalam keragaman guna saling melengkapi. Hikmah agung di balik ketetapan ini bukan sekadar tentang keberlanjutan eksistensi, melainkan rahasia besar indahnya persatuan di dalam perbedaan.

Laki-laki dan perempuan dipersatukan bukan untuk saling mendominasi, melainkan berbagi tugas mulia dalam memakmurkan bumi. Di atas pundak keduanya, terpikul amanah suci untuk merajut simpul keluarga yang kokoh—sebuah bahtera yang dibangun di atas fondasi sakinah (ketenteraman) dan mawaddah (cinta), demi menjemput ridha berupa rahmah (kasih sayang) yang tak bertepi dari Sang Pencipta.

Puncak dari jalinan kasih ini mewujud nyata dalam kehadiran seorang anak. Ia bukan sekadar pelengkap kebahagiaan duniawi, melainkan “amanah langit” yang harus dijaga dengan ketelitian dan dirawat dengan limpahan kasih. Amanah seagung ini tidak boleh dibiarkan tumbuh liar tanpa arah. Menyadari keterbatasan manusia, Allah swt. telah menurunkan bimbingan-Nya melalui teladan paripurna, Rasulullah saw. Beliau adalah kompas spiritual yang menuntun setiap rumah tangga Muslim agar tetap melangkah di atas jalan cahaya.

Mungkin ada yang meragu dan menganggap pola asuh ala Rasulullah saw. (parenting nabawi) tidak lagi relevan di zaman ini. Namun, pandangan tersebut akan luruh jika kita memahami hakikatnya secara mendalam. Meski realitas era digital menyuguhkan tantangan baru, spirit parenting nabawi tetaplah abadi karena ia menjadikan keteladanan (uswah) dan ikatan hati sebagai fondasi utama. Di sinilah tugas kita: menerjemahkan keteladanan sebagai pelajaran pertama, dan menjadikan sentuhan hati sebagai bahasa kasih sayang yang melampaui sekat zaman.

Membangun Fondasi Kedekatan dengan Anak

Dalam Sirah Nabawiyah ditegaskan bahwa Nabi Muhammad saw. memiliki keluhuran budi yang begitu tinggi jauh sebelum menikah dan memiliki anak. Hal ini mengandung pesan mendalam bahwa orang tua harus “menginstalasi” diri dan kesehariannya dengan penuh kebaikan sejak dini. Dengan demikian, ketika dikaruniai anak, ia tidak lagi gagap akhlak atau sibuk berbenah, melainkan tinggal melanjutkan kebiasaan baik yang telah mengakar dalam dirinya. Selebihnya, ia tinggal merawat dan memperkuat koneksi fitrahnya dengan memaksimalkan setiap lembar keseharian melalui amal-amal kebaikan.

Di antara pilar terpenting dari parenting nabawi adalah bangunan komunikasi dan sentuhan kasih sayang. Anak bukanlah mesin statis yang bergerak hanya melalui tombol; ia adalah perpaduan dua entitas, materi dan ruhani. Maka, tugas orang tua tidak sebatas menumbuhkan fisiknya, tetapi juga menyemai ruhaninya dengan sepenuh jiwa. Nabi saw. mengajarkan hal ini melalui pengalaman berharga bersama seorang Badui bernama Al-Aqra’ bin Habis yang terheran-heran saat menyaksikan beliau mencium cucunya, Hasan. Al-Aqra’ berkata, “Aku punya sepuluh anak, tak satu pun yang pernah kucium.” Rasulullah saw. menatapnya lalu bersabda, “Siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari & Muslim).

Senapas dengan teladan Rasulullah di atas, banyak orang tua yang mendambakan anak-anaknya tumbuh dengan karakter lembut dan terbuka. Namun di era digital ini, anak justru sering merasa terabaikan oleh orang tua yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Prinsip komunikasi yang seimbang sering kali terabaikan; ayah dan ibu mungkin hadir secara fisik, namun ruhani dan pikirannya absen di hadapan anak. Seolah perangkat digital lebih dipercaya daripada kehadiran diri sendiri dalam merajut bimbingan dan komunikasi yang sehat.

Akibatnya, anak mencari validasi perasaan dari dunia maya yang tak berimba atau dari orang asing yang bersedia meluangkan waktu sejenak mendengarkan kegundahannya. Inilah celah di mana pelaku kejahatan sering kali masuk dengan balutan perhatian semu. Di titik inilah, orang tua mulai kehilangan harapan dan masa depan anak. Anak tak lagi menaruh kepercayaan kepada orang tuanya; mereka sekadar menjadikan orang tua sebagai “vending machine” yang didatangi saat haus, lalu pergi begitu saja tanpa salam.

Padahal, apa yang dicontohkan Rasulullah saw. menjadi bukti otentik bahwa perjumpaan senyawa antarmanusia tidak akan pernah bisa tergantikan. Sentuhan fisik manusiawi memiliki stimulasi yang jauh lebih bermakna daripada layar kaca. Sebagaimana ditekankan oleh Imam al-Ghazali, hati anak itu suci dan sangat peka. Pendidikan yang dihantarkan dengan kelembutan akan lebih mudah meresap ke dalam jiwa dibandingkan kekerasan atau instruksi yang kering dan kasar.

Setiap anak membutuhkan validasi atas perasaannya. Ia senantiasa mengharapkan kehadiran seseorang yang mampu mengisi kekosongan hatinya di momen-momen krusial. Ia membutuhkan “tembok ratapan”—sebuah tempat sandaran di saat gelisah dan galau melanda. Maka, jangan biarkan peran ini diambil alih oleh orang lain. Kitalah yang seharusnya berada di garda terdepan untuk menampung setiap tetes tumpahan perasaan mereka. Hal ini penting untuk diwaspadai sejak dini, sebelum kita benar-benar kehilangan jiwa mereka akibat mengabaikan perasaan terdalamnya.

Potret kelembutan hati Nabi saw. juga tercermin indah dalam kisahnya bersama Abu Umair. Di tengah kesibukan dakwah yang luar biasa, beliau masih meluangkan waktu untuk menghibur anak kecil tersebut yang sedang berduka karena burung peliharaannya (Nughayr) mati. Rasulullah mendekatinya dengan penuh kasih, menanyakan kabar burungnya, dan sedikit pun tidak meremehkan duka yang dirasakan sang anak.

Kisah ini menunjukkan betapa mulianya akhlak Rasulullah saw. yang menghargai perasaan anak-anak, bahkan untuk perkara yang dianggap sepele oleh orang dewasa. Pesannya jelas: anak membutuhkan orang tua sebagai tempat curhat pertama, bukan orang lain, apalagi sekadar kolom komentar di jagat maya. Mesin akan tetap menjadi mesin yang kaku dan statis; ia tak memiliki hati, tak mampu melampaui empati, tak tersentuh simpati, dan takkan pernah bisa merasakan getaran kegundahan di lubuk hati terdalam. Wallâhu a’lam.

Oleh: Khairul Imam

Pengasuh PPTQ Ibnu Sina Yogyakarta, Dosen Prodi Ilmu Hadis IIQ An Nur Yogyakarta