Belajar dari Juara Internasional, Santri Pesantren Ibnu Sina Yogyakarta Asah Skill Kaligrafi Digital & Font Arab

Sleman— Agak lain, Sabtu 7/2/2026 Pesantren Ibnu Sina (PIS) Yogyakarta menggelar Meet and Greet bertema Peluang dan Masa Depan Kaligrafi Digital. Agenda kali ini merupakan bentuk penguatan literasi digital bagi para santri.
Hadir sebagai coach Ustadz Nur Syamsi, pakar Kaligrafi digital dari Namela Studio, platform yang bergerak dalam inovasi dan kreasi font atau bentuk huruf Arab, juga dihadiri pimpinan Pesantren, dan sejumlah guru dan santri.
Dalam sambutannya, Ustadz Khairul Imam, S. Th.I, M.Ag. selaku pimpinan Pesantren Ibnu Sina mengatakan bahwa acara sejenis ini harus rutin diadakan, mengingat santri itu harus disediakan ruang ekspresi seluas-luasnya.
“Para santri tidak hanya mengaji ayat-ayat qauliyah, tapi juga mengkaji ayat-ayat kauniyah serta adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satunya dalam transformasi kaligrafi digital. Dan ini bisa menjadi pilihan konsentrasi dalam meningkatkan skill dan keahlian untuk menghadapi tantangan global.” Kata Pak Khairul
Ia juga menyampaikan, para santri mesti bersinggungan dengan pakar-pakar dalam segala bidang, supaya cara pandangnya semakin beragam. “Boleh jadi agenda ini cocok buat beberapa santri, dan agenda yang satu lagi mengena bagi santri lain. Apalagi dengan bertemu banyak pakar, diharapkan mereka akan termotivasi untuk kemudian memiliki kesiapan mental dan spiritual yang akan menjadi bekal ketika menjadi alumni dan terjun di masyarakat.” Lanjutnya.
Acara dilanjutkan dengan Meet and Greet bersama Ust Nur Syamsi. Pertama-tama, ia memaparkan proses kreatif yang sudah ditekuni sejak lama. Sejak dari mondok dulu ia sangat menggandrungi kesenian, terutama seni lukis. Dari proses itulah, ia banyak mengembangkan jiwa seninya hingga lulus kuliah, bahkan sampai hari ini.
Lebih lanjut Ustadz Syamsi menjelaskan bahwa sebelumnya ia merupakan sarjana seni murni, yang setiap hari bergelut dengan cat minyak, kuas, kanvas, dan bagaimana strateginya beralih ke dunia digital. Mula-mula ia aktif bekerja di percetakan, kemudian mengembangkan ke disain grafis.
Kemudian mengambil konsentrasi di satu lini disain font atau bentuk huruf Arab. Dengan pertimbangan, ia merupakan seniman lulusan pesantren yang sering berhubungan dengan teks-teks Arab.
Maka sangat tepat ketika alumni pesantren berkreasi dan berinovasi dengan hal-hal terdekat, khususnya font Arab.
Ia juga menceritakan kesuksesannya dalam menjuarai berbagai kompetisi kaligrafi digital dalam ajang internasional. Hal inilah yang membuat para santri Pesantren Ibnu Sina sangat antusias menyimak dan meramaikan dengan berbagai pertanyaan.
Di akhir sesi, Pak Syamsi menyampaikan pesan kepada generasi muda hari ini, utamanya para santri agar jangan terburu-buru dalam berproses dan memperkaya skill dan keahlian.
Dalam bidang kreatif, hendaknya kita menguasai dasar-dasar dan mengeksplorasi setiap hal yang ditekuninya. Kemudian yang tak kalah pentingnya, ia juga menasihati kita dengan kalimat sederhana “bangun karya bukan gaya.” Artinya, kita harus memperbanyak karya dan eksplordiri, bukan sekadar mendahulukan gaya tanpa prestasi.
Ustadz Nur Syamsi merupakan alumni Gontor tahun 2002 dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 2010. Aktif sebagai digital kaligrafer, sekaligus pendiri Namela Studio dengan beberapa lini kreatif seperti Microstok-Oktora 2016, Namela Type 2019, dan Kutype 2024.
Dalam beberapa bulan terakhir ia memenangi ajang internasional, di antaranya sebagai Juara Kedua Al Burda Award pada kategori Typographic Design, sebuah platform seni Islam internasional yang diluncurkan oleh Kementerian Kebudayaan Uni Emirat Arab; peraih Encouragement Prize dalam ajang Modern Arabic Calligraphy pada Fujairah International Calligraphy and Ornamentation Competition.





